Categories
Uncategorized

Kerja Usus Apik Berkat Probiotik

Untuk meningkatkan produksi dan kesehatan unggas, diperlukan penerapan manajemen budidaya yang baik didukung ketersediaan obat dan pakan yang terjamin kualitasnya. Peran imbuhan pakan (feed additive) pun tak bisa dilepaskan dari pakan. Pemberian imbuhan pakan akan mempengaruhi karakteristik unggas dalam penyerapan nutrisi makanan. Veny Wibowo, Country Manager Bio chem Indonesia mengutarakan, penggunaan probiotik sebagai imbuhan pakan dapat menjaga kestabilan dan membuat saluran pencernaan lebih sehat. “Probiotik akan mengeliminasi dan mengurangi sebanyak mungkin bakteri patogen, jadi yang berkolonisasi dalam usus adalah mi kroflora yang baik,” ungkapnya saat ditemui AGRINA di kantornya, Serpong, Tangerang. Veny berujar, keberadaan mikroflora menguntungkan akan membantu proses pencernaan unggas. Baik itu mencerna kar bohidrat, lemak, maupun protein, sehingga nutrisi yang terserap lebih optimal dan performa unggas akan lebih baik.

Menstabilkan Usus

Kestabilan mikroflora usus pada saluran pencernaan sangat berpengaruh terhadap status kesehatan, perkembangan, dan pertumbuhan unggas. Lebih jauh Veny menjabarkan, aplikasi probiotik melalui spray (semprot) dapat mendukung perkembangan mikroflora usus lebih cepat dari awal kehidupan. Kehadiran probiotik, lanjut dokter hewan lulusan IPB Bogor ini, juga melindungi tubuh terhadap bakteri patogen yang mengakibatkan fungsi sistem imun usus meningkat. Kristiana Rini Astuti menimpali, penggunaan probiotik dapat meningkatkan populasi bakteri baik seperti Lactobacillus dan sebaliknya mengurangi E.coli. “Berbeda de ngan antibiotik, probiotik memiliki sistem kerja kompetisi. Kalau antibiotik ibaratnya main sapu saja, sedangkan probiotik benar-benar menjaga bakteri yang merugikan tidak berkembang banyak,” jabar Product Manager DFS Biochem Indonesia itu.

Pemberian produk yang mengandung probiotik dan betain, terang Rini, membantu meningkatkan kesehatan usus dan menstabilkan keseimbangan cairan tubuh agar tidak terjadi dehidrasi. Bila terjadi dehidrasi, usus tidak mampu menyerap nutrisi dengan optimal. Penggunaan antibiotik yang terlalu sering, menurut alumnus Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta tersebut, juga menyebabkan penyerapan makanan tidak optimal karena vili-vili dalam usus rusak. “Ketidakseimbangan mikroflora dalam usus mengakibatkan vili-vili usus menjadi pendek. Jika vilinya pendek, sebanyak apapun pakan yang masuk pasti akan terbuang begitu saja, otomatis FCR-nya (kon versi pakan) juga tidak bagus,” paparnya.

Natural Growth Promoter

Antibiotik pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promoter-AGP) dalam pakan telah lama digunakan untuk mencegah penyakit dan meningkatkan pertumbuh an unggas. Kendati demikian, pengguna an nya secara terus menerus dikha wa tir kan memicu resistensi unggas terhadap mi kroorganisme patogen. Kehadiran probiotik sebagai natural growth promoter da pat menggantikan peran AGP dalam me ningkatkan kesehatan pencernaan dan performa unggas, namun tetap mem perhati kan ke seimbangan mikroflora usus. Veny berpendapat, konsep “feed safety for food safety” perlu diterapkan. Artinya, keamanan dalam pakan ternak akan mem beri rasa aman pula kepada konsumen. Ia meyakini, fungsi dan kinerja probiotik bisa sebaik AGP bahkan lebih efektif. “Eropa sudah lama tidak menggunakan AGP. Antibiotik tetap digunakan, teta pi tidak sebagai growth promoter, melainkan untuk perlakuan tertentu seperti saat sakit,” tandasnya. Karena itu, Rini menambahkan, demi ke amanan konsumen ke depan, se baiknya probiotik mulai banyak diterapkan agar konsumen terhindar dari paparan residu antibiotik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *