Categories
Agribisnis

Giliran Pebisnis Catfish Tersenyum Manis

Baik pembudidaya maupun pengolah patin tengah tersenyum. Pasalnya, patin fillet lokal laku keras di pasar. Menurut Samiono, Direktur PT Central Pertiwi Bahari (CPB), permintaan fillet patin meningkat signifikan sebesar 30%-35% sejak semester II 2017.

“Penjualan per bulan di tempat kami rata-rata tahun lalu masih 160-170 ton/ bulan. Saat ini penjualan sudah 230-an ton/bulan,” ujarnya kepada AGRINA. H. Aribun Sayunis, Ketua Asosiasi Pembudidaya Catfish Indonesia (APCI) Prov. Lampung merasakan hal serupa. “Permintaan patin fillet pada semester I 2017 turun.

Penurunan yang kami rasakan sampai 30%. Tapi, begitu semester II permintaan stabil, naik lagi ke 50%,” ucapnya. Pernyataan senada muncul dari Bogor, Jabar. H. Udin Hohipudin, pembudidaya patin di kota hujan ini menjelaskan, permintaan benih patin sepanjang tahun lalu cukup bagus dan makin meningkat pada semester kedua.

“Sumatera dan Jawa Timur butuh banyak benih di pertengahan 2017,” katanya. Sedang kan, kebutuhan patin untuk pasar tradisional dan rumah makan juga menanjak.

Tren Positif

Samiono menjabarkan, kenaikan permintaan patin lokal lantaran enam bulan lalu Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPMKKP) memperketat penjagaan pelarangan impor fillet patin dari Vietnam dan melakukan sidak ke ritel yang masih menjual patin ilegal.

Jika tidak ada sidak, ulasnya, ritel akan tetap memilih patin impor karena harganya lebih murah sekitar 20%-30% atau Rp30 ribu-Rp32 ribu/kg. Sementara, biaya produksi fillet patin lokal mencapai Rp38.500/kg. Rinciannya, harga bahan baku Rp32 ribu/kg fillet dan biaya operasional lainnya seperti tenaga kerja, depresiasi mencapai Rp7.500/kg.

“Kita membeli ke petani Rp14 ribu-Rp16 ribu/kg. Kalau panennya 30% berarti dibagi Rp15 ribu/kg sudah Rp32 ribu/kg, itu adalah bahan baku. Jadi kalau dihitung-hitung memang harga pokok kita sudah Rp38.500/kg,” tandas Samiono. Menjelang 2017, beber Aribun, Indonesia “kebanjiran” patin karena beredarnya impor dari Vietnam sangat banyak.

Dori atau patin impor yang masuk lewat jalan tikus itu mengakibatkan permintaan patin lokal jatuh. Harga patin lokal di level pem budidaya terperosok hingga Rp10 ribu-Rp11 ribu/kg pada semester I tahun lalu untuk pasar lokal. Harga patin untuk fillet stabil Rp16 ribu/kg tetapi permintaan turun hingga 30%. Padahal dengan pakan mandiri saja, biaya produksi patin sudah mencapai Rp9.000-Rp10 ribu/kg. Kalau menggunakan pakan pabrik, biaya produksi menjadi 12.600/kg. Sidak BKIPM memberi dampak luar biasa.

“Semester II 2017 patin jadi langka karena ketakutan pe la ku pembudidaya untuk menanam kembali. Akhir 2017 posisi langka dan harganya cukup tinggi. Harga di pasar lokal di tingkat petani sekarang Rp15.500-Rp16.000/kg,” ulasnya, Rabu (27/12). Udin menuturkan, kebutuhan benih patin di Jatim dan Sumatera meningkat pada pertengahan tahun lalu karena serapan industri yang tinggi.

“Ditambah, sebelumnya habis nggak ada telur. Akhirnya, umur belum cukup juga (benih) sudah keluar. Benih lagi ba gus-bagusnya, 18 cm sudah keluar (terjual),” ungkapnya.

Peluang 2018

Tahun ini, kata Samiono, bisnis patin di Indonesia akan lebih baik. Salah satunya karena masyarakat sudah tahu kualitas patin lokal yang bagus. CPB bahkan mematok produksi fillet mencapai di atas 300 ton/bulan. Sedangkan kebutuhan fillet patin di Indonesia mencapai 800 ton/bulan atau 10 ribu ton setahun.

Samiono pun meminta pemerintah tetap sigap menjaga dan melakukan sidak impor patin ilegal. Di sisi lain, pembudidaya dan industri patin lokal terus berbenah diri dan mem perbaiki kualitas. “Kalau Vietnam masuk dengan harga Rp30 ribu-Rp32 ribu/kg, dengan sendiri nya kita akan tergerus. Makanya dengan sangat kita mengharapkan me re ka melaku kan pence gah an yang ilegal,” cetusnya.

“Peluang patin Indone sia untuk 2018 sangat besar sekali,” timpal Aribun optimistis. Alasannya, patin Vietnam dan Thailand ditolak pasar Amerika dan Eropa. Jadi, peluang patin lokal untuk me ngua sai pasar lokal dan pasar ekspor. Alfons van Duijvenbode, Managing Partner Globally Cool BV, perusahaan konsultasi pemasaran internasional ternama asal Belanda, membenarkan keadaan yang dialami Vietnam.

Ekspor patin Vietnam dari US$0 pada 1998 menjadi US$2 miliar kurang dalam 15 tahun. Banyak isu-isu bohong tentang patin untuk melindungi nelayan Amerika yang penjualannya turun drastis karenanya. “Pembudidaya patin Vietnam diam saja, nggak berusaha melawan isu. Dalam dua-tiga tahun nilai ekspor ini turun US$500 juta. Dari US$2 miliar menjadi US$1,5 miliar.

Ini menyakitkan,” ujarnya pada Seminar “Talk on Sector Marketing Strategies and Branding Campaigns-Sharing Concepts and Good Practices from Asia, Africa and Latin America” di Jakarta (15/12). Alih-alih memperbaiki kualitas, mayoritas produsen Vietnam justru memilih pasar China dengan kualifikasi yang lebih rendah.

Pemulihan Bisnis Lele

Dalam industri lele, menurut Suganda, 2017 merupakan tahun pemulihan. “Posisi tata niaga sih lancar, cuma kondisi pelaku lele dalam posisi pemulihan, ibarat habis sakit. Karena tahun-tahun kemarin dari 2014 nggak enak terus di perjalanan lele,” kata Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Kersa Mulya Bakti itu.

Kabar baiknya, sepanjang 2017 tidak terjadi kenaikan harga pakan. Pakan lele bertahan di kisaran Rp9.500/kg, sedangkan harga “si kumis” di tingkat pembudidaya sekitar Rp17 ribu/kg. Lele sangat rentan terhadap kenaikan harga pakan.

“Kenaikan Rp500/kg untuk grup lele itu berat karena kenaikan harga lele bukan ribuan tapi ratusan, dari Rp16.000/kg ke Rp16.500/kg,” imbuh pembudidaya lele di Kec. Kapetakan, Kab. Cirebon, Jabar ini. Sementara, biaya produksi lele naik menjadi Rp12 ribu/kg dari sebelumnya Rp11 ribu/kg. “Yang menyebabkan kenaikan ini, pendederan nggak begitu berhasil, jadi benihnya berebut,” ulas Ganda, sapaannya.

Harga benih ukuran 4-6 cm berkisar Rp100/ekor. Meski begitu, lan jut nya, pasar lele te tap menjanjikan. “Kondisi pasar lele justru terbuka sekali. Di mana-mana lele kurang untuk sepanjang 2017,” ucap pria kelahiran 12 Juni 1971 itu saat di hubungi AGRINA, Jumat (22/12).

Kondisi tersebut juga terjadi di sentra lele, seperti Bogor, Indramayu, dan Boyolali. Tahun ini, Ganda optimistis pasar si kumis juga memiliki prospek bagus. “Saya melihatnya 2018 akan tumbuh. Banyak sekali pedagang yang datang dan komitmen (membeli lele),” ungkapnya.

Namun, dia tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya kenaikan harga pakan. Sebab, penggunaan pakan mandiri masih belum memberikan hasil yang memuaskan.

Categories
Agribisnis

Bisnis Udang Tetap Cemerlang

Kondisi lokal dan global sangat berpengaruh terhadap industri udang nasional. Produksi udang 2016-2017, kata Yuri Sutanto, disumbang peningkatan produksi di area-area baru, seperti Aceh, Lampung Barat hingga Bengkulu.

Bagaimana pengaruh kondisi lokal dan global pada industri udang tahun ini? Kilas 2017 Iwan Sutanto, Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) menjelaskan, tutupnya kegiatan budidaya yang dilakukan perusahaan udang terintegrasi di Lampung pada awal 2017 tak pelak berdampak signifikan terhadap produksi udang nasional.

Sebab, perusahaan ini menyumbang sebanyak 70 ribu ton produksi “si bongkok” dalam setahun. Namun, ungkap Iwan, keadaan itu malah membuka peluang bagi pembudidaya udang mandiri untuk berkembang. Pengoperasian tambak udang mangkrak ataupun pembukaan lahan tambak baru mulai berkembang. Para pelaku usaha lama mulai ekspansi lahan, sedangkan pembudidaya baru dengan skala rumah tangga sampai skala intensif terus bermunculan.

Pertumbuhan budidaya si bongkok ini pun sanggup menambal produksi udang yang sempat hilang, bahkan diprediksi meningkat. “Tahun 2017 produksi udang petambak angggota SCI bisa mencapai 400 ribu ton atau bisa berkontribusi sekitar 60% produksi udang nasional,” ujar Iwan. Angka ini meningkat sekitar 15% dari produksi tahun sebelumnya.

Selain peningkatan produksi, harga udang ikut terkerek lantaran berhenti beroperasinya produsen udang terintegrasi itu. Harga udang vaname ukuran 50 ekor/kg misalnya, naik dari Rp75 ribu/kg menjadi Rp85 ribu/kg. Kenaikan harga juga didorong permintaan udang dunia yang terus meningkat sementara negara produsen udang lainnya masih terkendala produksi karena penyakit.

Serangan Penyakit

Yuri Sutanto, Ph.D., Technology and Research Division PT Central Proteina Prima, Tbk. menjelaskan, kondisi penyakit yang menyerang udang pada 2017 berupa Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV), White Spot Syndrome Virus (WSSV), White Feces Syndrome (WFS), dan Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP), tidak separah tahun sebelumnya. “Memang ada spot-spot di mana IMNV merebak, terutama di Lampung karena padat tebar terlalu tinggi.

Tapi, overall tidak lebih buruk dari 2016. Malah ada kecenderungan membaik,” ulasnya pada Seminar Nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2018 di Jakarta beberapa waktu lalu. Hingga September 2017, terjadi peningkatan serangan IMNV di Lampung dan menyebabkan kematian udang yang cukup banyak.

Penyakit yang sempat menggegerkan industri udang lokal pada 2009 itu juga terjadi di Jatim, Bali, dan Sumbawa dengan intensitas tinggi tapi kematian bisa ditekan. Serangan WSSV ada di semua wilayah dengan intensitas serangan rendah. Sedangkan, Jatim juga masih bermasalah dengan penyakit WFS dan EHP. Penyebab utama kehadiran WFS memang belum diketahui secara pasti.

Namun, Yuri menuturkan, solusi mencegah kehadiran WFS cukup sederhana, yaitu meningkatkan sanitasi. “Kalau mau menaikkan densitas lebih tinggi, jangan lupa lebih sering membersihkan tambak. Kotoran di tambak menjadi sumber vibrio berkembang, bertempur antara (vibrio) yang baik dan jahat. Menyebabkan masuk ke udang dan di dalam tubuhnya berubah, (vibrio) yang jahat mendominasi, jadilah WFS,” urainya.

Proyeksi 2018

Menurut Iwan, prospek bisnis udang 2018 tetap baik. Petambak akan terus berekspansi mengejar target peningkatan produksi. Namun, ia mengingatkan pembudidaya yang hendak membuka lahan tambak udang agar mempertimbangkan kemampuan daya dukung (carrying capacity) kawasan.

Berbagai faktor yang berpengaruh lainnya, seperti kualitas air, saluran air masuk dan keluar, dan fasilitas pengolahan limbah tambak harus benar-benar diaplikasikan. “Jangan hanya melihat prospek profitnya saja. Namun, keberlanjutan usaha dan keseimbangan ekosistem tambak juga harus diperhatikan,” imbaunya.

Yuri menambahkan, pengolahan air masuk dan limbah buangan akan dapat mengurangi kegagalan produksi karena penyakit. “Apalagi, sekarang ekspansi di mana-mana. Artinya kerusakan tinggi akan semakin cepat karena banyak buangan,” paparnya. Selain itu, fokuslah pada keberlanjutan agar usaha budidaya udang bisa berjalan hingga generasi berikutnya.

Pemerintah daerah yang mempunyai otoritas perizinan, Iwan mengingatkan, harus tegas dalam mengeluarkan perizinan tambak yang sesuai dengan tata ruang tiap-tiap daerah. “Jangan sampai perizinan dikeluarkan tanpa dasar tata ruang sehingga mengancam keberlanjutan usaha tambak udang ke depannya,” tandas pengusaha udang yang memulai bisnisnya di Lampung tersebut.

Waspada EMS

Di sisi penyakit, Yuri memprediksi, udang masih berada dalam intaian penyakit yang sama, yaitu WSSV, IMNV, dan WFD. Hanya saja kondisinya akan lebih baik dari 2017 bila iklim mendukung dan petambak melakukan budidaya yang baik sesuai kemampuan (manageable).

Doktor lulusan University of Illinois, Amerika menekankan pembudidaya agar mewaspadai kehadiran penyakit Early Mortality Syndrome (EMS) yang hingga kini masih meluluhlantakkan produksi udang dunia. EMS menyerang China sejak 2009, Vietnam 2010, Thailand 2012, Meksiko 2015, dan Bangladesh pada 2017. “Ini harus diwaspadai.

Apalagi, kita sudah ada penyakit yang fungsinya merusak hepatopankreas dan melemahkan udang,” ia mewanti-wanti. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai EMS merebak di Indonesia. “Saya yakin akan datang. Karena Malaysia dekat, Thailand juga relatif dekat dan penyakit-penyakit itu bisa secara natural datang bersama mengikuti arus patogen-patogennya.

Atau, kapal-kapal lewat, ambil air dari laut, terus dia buang di mana, itu bisa berpotensi,” terangnya terperinci kepada AGRINA. Namun, sambungnya, EMS bisa kita hindari sejak awal dengan memperbaiki upaya pencegahan. Yakni, pengawasan secara rutin di wilayah budidaya udang dan menerapkan pengecekan dan persyaratan bebas EMS pada benur di titik embarkasi udang hidup (containment).

“Tindakan containment lebih efektif dilakukan sebelum wabah merebak,” ulas Yuri. Jika menemukan tanda-tanda serangan EMS, dosen tamu Fakultas Bioteknologi, Universitas Katolik Atma Jaya itu menganjurkan pembudidaya untuk segera melapor pada otoritas kesehatan ikan, yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Kalau sudah terkena, harus melakukan perbaikan langkah budidaya.

Misalnya, dasar tambaknya tanah, harus dikeringkan atau di-lining, itu bisa membantu menurunkan risiko penyakit yang sama di siklus berikutnya,” saran Yuri.